SARANA PENYEBERANG JALAN-RAYA
Pendahuluan
Dengan
kendaraan bermotor roda: dua, tiga, empat, dan seterusnya meningkat terus menyerbu
kota-kota besar dunia dalam perjalanan waktu
kedepan, para pejalan-kaki (pedestrian) lalu menemukan sedikit “peluang” untuk menyeberang jalan-raya
di lampu-lampu merah bertanda zebra di berbagai kota besar yang padat penduduknya
kedepan; dan menjadi persoalan yang semakin sulit dipecahkan oleh para walikota. Adapun
yang dikeluhkan para pejalan-kaki ialah: waktu menunggu untuk memperoleh peluang
menyeberang yang semakin lama, dan menye-berang jalan-raya yang aman selamat
sampai di seberang, kian menghabiskan banyak waktu. Para pejalan-kaki mendapat
peluang waktu yang makin pendek di lampu-lampu merah bertanda zebra, terutama pada
jam-jam sibuk di hari kerja. Difihak yang sebaliknya, memberi kesempatan kepada
para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya di lampu-lampu merah bertanda zebra di
kota-kota besar yang padat penduduknya menyebabkan antrian panjang kendaraan
bermotor pada jam-jam sibuk hari kerja, menimbulkan pencemaran udara yang mengancam
kesehatan warga kota.
Untuk
mengatasi persoalan diatas, terutama menghindarkan kecelakaan lalulintas di jalan-raya
berbagai kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara, sudah tiba
waktung para pejalan-kaki (pedestrian) hijrah dari: menyeberang jalan-raya “satu
bidang” ke menyeberang jalan-raya “dua bidang”, dengan memperkenalkan: Penyeberang
Pejalan-kaki Atas (PPA) atau Overhead Pedestrian Crossing (OPC) dan Penyeberang
Pejalan-kaki Bawah (PPB) atau Underpass Pedestrian Crossing (UPC), di berbagai kota
besar yang padat berpenduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara.
PPA
adalah satu atau lebih “jembatan penyeberangan” yang menghubungkan dua sisi
jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki ketinggian ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya, sehingga beragam kendaraan
bebas bergerak terpisah dibawahnya. Sedangkan PPB ialah sebuah pelintasan atau
lorong ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan-raya untuk para pejalan-kaki, sehingga
beragam kendaraan bebas bergerak terpisah diatasnya. Bagi para pejalan-kaki PPB
lebih disenangi, karena “menuruni” tangga sedalam ± 2.5 meter dibawah permukaan
jalan-raya menguras sedikit tenaga (energy) ketimbang “menaiki” anak-anak tangga
tinggi ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya.
Penyeberang
Pejalan-kaki Atas
PPA
dapat dibangun di berbagai kota besar yang padat penduduknya untuk melancarkan
lalulintas sekaligus menghindarkan kecelakaan lalulintas di permukaan jalan-jalan
raya, sedang-kan PPB hanya dapat dibangun pada sejumlah tempat yang dikenal
aman untuk menghindarkan kejahatan. Dalam pelaksanaannya, dibedakan dua golongan
PPA yang mendapat sambutan baik warga berbagai kota besar yang berpenduduk
padat, yakni: Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL) atau Straight Pedestrian
Crossing (SPC) sebagaimana yang diperlihatkan Gambar Ia, dan Penyeberangan Pejalan-kaki
Terpadu (PPT) atau Integrated Pedestrian Crossing (IPC) seba-gaimana tampak
pada Gambar Ib.
Gambar-I
Sarana
PPL dan PPT.
Sebuah PPL dapat terdiri dari satu atau lebih jembatan
penyeberangan yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya yang diseberangi oleh para
pejalan-kaki. Sedangkan PPT terdiri dari
seke-lompok jembatan penyeberangan mengitari pertemuan jalan-jalan raya (roundabout). Yang disebut
akhir ini tidak perlu merupakan sebuah lingkaran sempurna sebagaimana yang diperlihatkan
oleh Gambar-Ia, tetapi dapat juga sebuah bangun tertutup (loop) sebarang bentuk
menurut keadaan lingkungan alam yang terdapat di persimpangan jalan-jalan raya
(motorway interchange) kota besar berpenduduk padat Tanah-Air atau Mancanegara
yang dibicarakan.
Dengan PPL dan PPT sebagai “sarana baru” untuk menyeberang
jalan-raya di berbagai kota besar yang padat penduduknya di nusantara dan mancanegara,
menyeberang jalan-raya “budaya baru” yang dibantu “sarana naik” dan “sarana
turun” dirancang khusus untuk para pejalan-kaki yang melintas di teriknya siang
hari, atau dinginnya tengah malam, akan menggantikan “budaya lama” menyeberang
jalan-raya “menaiki” dan “menuruni” anak-anak tangga yang menguras banyak
“tenaga” (energy). Budaya lama selain sudah ketinggalan zaman, juga tidak lagi layak
digunakan ditinjau dari ukuran (standard): keamanan, kenyamanan, perlindungan,
dan kese-lamatan jiwa manusia, perlu segera diakhiri di Tanah-Air dan
Mancanegara di berbagai kota besar yang padat penduduknya, oleh alasan
sederhana: menyalahi “hak azasi manusia” untuk menyeberang jalan-raya: aman,
nyaman, dan selamat sampai ke seberang; dewasa ini semakin dikuasai atau
didominasi mesin bikinan manusia dimana-mana di hampir seluruh penjuru dunia.
Elevator Pejalan-kaki
Yang dinamakan “sarana naik” tidak lain dari sebuah “bilik-angkut”
dinamakan juga “ruang-angkut” atau lebih popular dengan istilah: “kabin
elevator” yang bergerak keatas, sedangkan “sarana turun” ialah bilik angkut yang
sama tetapi sedang bergerak kebawah; keduanya tidak lain dari sebuah “kabin elevator”
yang dirancang khusus untuk menaikkan atau menurunkan para pejalan-kaki menyeberang
jalan-raya sebagaimana yang terlihat pada Gambar-II, berteknologi sederhana: 1.
Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear,
dijalankan motor induksi rem (brake induction motor).
“Ruang angkut” akan menaikkan para pejalan-kaki dari permukaan
jalan-raya menuju PPL atau bagian PPT di suatu ketinggian, atau sebaliknya
menurunkan para pejalan-kaki dari sisi lain PPL atau bagian PPT suatu ketinggian kembali ke permukaan jalan-raya di
seberang; dan “ruang angkut” inilah yang kemudian dinamakanaa; Elevator
Pejalan-kaki (EP) atau Pedestrian Elevator (PE). Dengan meninggalkan “budaya
lama” dan hijrah ke “budaya baru”, para pejalan-kaki dari semua generasi mulai yang
normal hingga kaum disable, dimanapun di muka bumi ini, akan menyeberang jalan-raya berbagai kota yang padat
penduduknya dengan: aman, nyaman, dan sselamat terbaik di dunia.
Dengan hijrah ke budaya baru, para pejalan-kaki warga kota besar
yang padat penduduk yang menyeberang
jalan-raya, akan pertama kali dinaikkan EP ke PPL atau bagian PPT ketinggian ± 5 m diatas jalan-raya. Lalu membiarkan
mereka berjalan kaki diatas permukaan datar (hori-zontal) sepanjang PPL atau
bagian PPT; kemudian dari sisi lain PPL atau bagian PPT, para pejalan-kaki akan diturunkan EP lain kembali ke permukaan
jalan-raya seberang.
Tenaga listrik yang diperlukan untuk menaikkan atau
menurunkan EP, menggerakkan sistim listrik, elektronik dan lainnya, tidak
terkecuali menyalakan penerangan, diperoleh dari PLN. Sumber tenaga listrik lain
yang juga dapat digunakan ialah peladangan sinar matahari dikendalikan sistim
elektronik. Begitu juga tenaga listrik diperoleh dari peladangan tenaga angin.
Daya angkut atau kapasitas EP digunakan tergantung dari
rancangan ukuran dan luas lantainya. Semakin luas lantainya, semakin besar daya
angkut pejalan-kaki sebuah bilik atau kabin elevator. Dalam merancang EP perlu
ditentukan standard daya angkut pejalan-kaki sebuah EP, seperti: 10 orang, 20
orang, 30 orang, dan lainnya.
PPL dan PPT dapat dibangun dari beton bertulang seperti
tempat berjalan kaki setinggi ± 5 meter diatas jalan-raya yang dilalui para pejalan-kaki,
juga konstruksi baja seperti EP lengkap dengan ruang-angkutnya. Sebagai bagian
dari konstruksi beton, beton pratekan (reinforced concrete) dapat dimanfaatkan,
seperti: jembatan lurus, jembatan terpadu, dan bermacam tiang penyangga yang dibutuhkan.
Dalam pembuatan EP, diperlukan juga baja kanal-C atau baja kanal-H, pipa baja,
plat baja, dan lain sebagainya, tidak terkecuali untuk pagar pembatas dan pengaman,
agar lebih ekonomis.
Terdapat dua macam
EP yang dapat dibuat, masing-masing: Elevator Topang Keliling (ETK) atau
Peripherally Braced Elevator (PBE) sebagaimana tampak pada Gambar-IIa, dan
Elevator Topang Tengah (ETT) atau Centrally Braced Elevator (CBE), yang diperlihatkan
pada Gambar-IIb.
Gambar-II
ETK adalah sebuah konstruksi
baja bangun persegi atau bulat yang menyerupai sangkar, di dalam mana sebuah bilik
atau kabin untuk para pejalan-kaki dapat bergerak naik atau turun. Sedangkan
ETT, adalah tiang tengah terbuat dari beton atau baja, disekeliling mana bilik atau
kabin untuk para pejalan-kaki bentuk persegi atau bulat dapat bergerak naik
atau turun. Berbeda dengan lift bangunan tinggi, ETK dan ETT tidak memerlukan kabel baja untuk menggantung
bilik atau kabin para pejalan-kaki berikut perlengkapannya, akan tetapi membutuhkan
pelataran atau platform untuk lantai termasuk empat Alat Angkat (AA) atau
Lifting Device (LD) bertek-nologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nuts dengan
Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears, yang digerakkan
motor induksi rem.
Keempat AA (LD) akan bersama-sama menaikkan pelataran bersama
bilik atau kabin serentak menaikkan para pejalan-kaki didalamnya keatas,
sebaliknya bersama-sama menurunkan bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki kebawah,
dilakukan sebentuk sistim mekanik yang terdapat dalam kompartemen penggerrak
dibawah lantai kabin. Elevator berikut bilik atau kabin yang ada diatasnya tidak
dapat turun dengan sendirinya atau merosot oleh berat sendiri berikut para
pejalan-kaki didalamnya, kecuali digerakkan oleh motor induksi rem. Dengan
perkataan lain, elevator berikut para pejalan-kaki didalamnya tidak akan dapat bergerak
naik atau turun, ma-nakala tidak mendapat perintah untuk melakukannya.
Tenaga listrik mengalir dari jala-jala PLN atau sumber listrik
lain melalui kabel daya menuju panel ETK atau panel ETT, dan lewat pengantar
daya lemas (flexsible) masuk kedalam bilik atau kabin. Pilihan lain menggunakan
tiga rel tembaga tersekat dan dipungut tiga sikat karbon. Manakala jaringan PLN
gagal menyediakan daya listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency
power supply) perlu ditempatkan di dalam bilik atau kabin EP.
Dengan peladangan cahaya matahari semakin banyak dimanfaatkan
orang kedepan, begitu juga peladangan tenaga angin, budaya baru menyeberang
jalan-raya tidak saja terdapat di kota-kota besar yang padat penduduknya, tetapi
juga di beragam tempat lain jauh di luar kota besar, dimana “hak manusia” untuk
menyeberang jalan-raya dengan: aman, nyaman, dan selamat, harus dilaksanakan.
Sebuah Pengendali Logika Terprogram (PLT) atau Programmable
Logic Controller (PLC) perlu terdapat dalam EP, yang bertindak sebagai
antarmuka (interface) antara para pejalan-kaki dengan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical
system) yang menaikkan dan menurunkan bilik atau kabin EP, agar yang akhir ini dapat
memahami perintah para pejalan-kaki, begitu juga sejumlah pemutus batas (limit
switches), berbagai saluran kendali (control wirings), termasuk sejumlah tombol
(push buttons) yang diperlukan.
Sarana Peneyeberang Jalan-Raya Mandiri
Gambar-III memperlihatkan
sarana penyeberang jalan-raya berdiri sendiri atau mandiri untuk para pejalan-kaki,
sebagaimana tampak atas yang terlihat pada Gambar-IIIa dibawah ini:
Gambar-IIIa
Adapun keterangan dari PPL mandiri yang terlihat dari atas,
dari kiri ke kanan, adalah sebagaimana yang dikemukakan dibawah ini:
a.
Lajur Angkutan Umum Hilir.
b.
Lajur Angkutan Busway Hilir.
c.
Lajur Angkutan Busway Mudik.
d.
Lajur Angkutan Umum Mudik.
e.
Tapak tempat para Penyeberang Jalan Raya Berkumpul atau
Bubar:
x
- jarak tapak dari Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL)
y
- jarak tapak dari sumbu jalan-raya yang diseberangi pejalan-kaki.
Kedua besaran ini tidak perlu harus sama
di kedua sisi jalan-raya, begitu juga luasnya. Hal ini banyak tergantung dari keberhasilan
pemerintah kota membebaskan lahan keperluan para warga menyeberang jalan-raya,
men- jadikannya tempat pemberhentian (halte) bus atau busway, menyimak keten- tuan
SNI yang berhubungan dengan masalah ini.
f.
PPL.
g.
EP (Elevator Pejalan-kaki).
h.
Tinggi PPL diatas jalan-raya.
Gambar-IIIb
Adapun sejumlah bagian PPL yang tampak dari depan, ialah sebagai
berikut:
f. PPL yang menghubungkan
kedua sisi jalan-raya diseberangi.
i. Tiang penyangga terdapat ditengah jalan-raya.
g. EP yang terdapat di kedua
ujung PPL, diatas tapak kanan dan tapak kiri.
h
= ± 5 m ketinggian PPL diatas jalan-raya
diseberangi.
Gambar-IIIc
Gambar-IIIc
memperlihatkan PPL mandiri terlihat dari samping.
f.
PPL pada tinggi penyeberangan jalan-raya.
g.
EP terdapat di salah satu tapak.
Saat akan menyeberang jalan-raya, para pejalan-kaki perlu menurunkan
terlebih dahulu EP (bilamana elevator sedang berada diatas) sedemikian rupa, hingga
lantai bilik atau kabin rata dengan permukaan jalan-raya. Dengan menekan Tombol
Buka (TB) dari luar, pintu bilik atau kabin segera membuka, dan para
pejalan-kaki dapat masuk. Dengan menekan Tombol Tutup (TT) dari dalam bilik
atau kabin, EP akan bergerak keatas dan baru berhenti setelah menyentuh pemutus
batas (limit switch) atas. Selanjutnya TB ditekan dari dalam, pintu bilik akan terbuka
dan para pejalan-kaki dapat keluar menuju PPL atau bagian PPT. Selesai.
Menurunkan para pejalan-kaki dari tinggi PPL atau bagian PPT,
dimulai dengan menaikkan EP (apabila elevator sedang berada dibawah) sedemikian
rupa hingga lantai bilik rata lantai PPL atau bagian PPT. Dengan menekan TB
dari luar, pintu bilik akan membuka dan para pejalan-kaki dapat masuk. TT kemudian ditekan dari dalam menyebabkan bilik
atau kabin bergerak turun, baru akan
berhenti setelah menyentuh pemutus batas bawah. Selanjutnya TB ditekan dari
dalam membuat pintu bilik atau kabin terbuka,
dan para pejalan-kaki keluar menuju jalan-raya sebe-rang. Selesai.
Terdapat nada berbeda yang akan menyertai EP saat bergerak
naik maupun turun. Tujuannya untuk memberitahu orang-orang yang berada
disekitar bahwa EP sedang bekerja memberi pelayanan kepada para pejalan-kaki
yang menyeberang jala-raya.
PPL ditempatkan di berbagai tempat strategis kota besar
yang berpenduduk padat dengan kendaraan sangat sibuk melaju pesat, sedangkan PPT
ditempatkan mengelilingi sebuah per-simpangan jalan-jalan raya dengan kendaraan
sibuk juga melaju pesat. Dengan pemisahan sempurna para pejalan-kaki dari bermacam
kendraan berlalulalang, kecepatan rata-rata lalulintas dapat ditingkatkan menuju
ke kecepatan ekonomis kendaraan dirancang, demi menghemat pemakaian bahan-bakar,
mengurangi pencemaran udara, menyingkat waktu tempuh, dan mematuhi tertib
lalulintas. Dan yang disebut belakangan, tidak dapat diperoleh hanya dengan manipulasi
aturan lalu-lintas saja (soft-ware atau perangkat-lunak), tetapi harus dengan menghadirkan
sarana (hardware atau perangkat-keras) berupa: PPL dengan EP, atau PPT de-ngan EP. Inilah yang dinamakan: Software+Hardware
Solution , disingkst SHS, atau Pe-mecahan
Perangkat-lunak+Perangkat-keras, disingkat PPP atau 3P, terhadap masalah
lalu-lintas di kota-kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air maupun
Mancanegara, dimanapun berada di muka bumi.
Penyeberangan Jalan-raya Berbayar
Dengan adanya PPL, PPT, dan EP di berbagai kota besar
berpenduduk padat yang siap melayani, setiap orang yang dengan sengaja
menyeberang jalan-raya di tempat yang terlarang harus dihukum. Dasar hukum yang
mendasarinya jelas, para penye-berang liar akan membuat para pengemudi terkejut
dan menurunkan laju kendaraan dibawah kecepatan lalulintas rata-rata yang diperintahkan, menyebabkan pemakaian bahan-bakar
boros, pencemaran udara meningkat, peraturan
dilanggar, dan lenyapnya waktu yang berharga.
Dengan keberadaan PPL, PPT, dengan EP di berbagai kota
besar yang padat berpenduduknya di Tanah-Air maupun Mancanegara,
dapat diperkenalkan “menyeberang membayar”, atau “pay crossing” kepada
masyarakat. Tujuanny menghimpun dana untuk mengoperasikan dan merawat sarana menyeberang
jalan-raya budaya-baru, manakala walikota menolak menggunakan dana pajak masyarakat.
Dengan selogan: “Setiap orang dapat bayar
menyeberang“, atau “Every-one can pay across”, siapa saja yang
benar-benar tidak mempunyai uang, akan langsung diberi uang oleh yang melola untuk
menyeberang, atau oleh siapa saja yang berniat
membantu membayar atau bersedekah menyeberangkan orang.
Sarana kota budaya-baru ini tidak hanya mendapat pemasukan
uang dari para pejalan-kaki yang akan menyeberang jalan-raya. Masih banyak sumber
penghasilan lain yang dapat digali yang melola tergantung dari kreatifitas orang yang diberi kepercayaan. Dengan adanya PPL,
PPT, dibantu EP di berbagai kota besar yang
padat penduduknya di nusantara dan dunia, orang-orang tua demikian juga mereka
yang cacat jasmani akan menyeberang jalan-raya dengan mudah, dan sudah tentu orang-orang
perempuan dan anak-anak.
Penyeberangan Jalan-Raya Tergabung Busway
Prasarana budaya-baru menyeberang jalan-raya: PPL, PPT, berikut
EP dapat dengan mudah bekerjasama dengan
layanan angkutan umum, seperti: angkot, metromini, bus, tidak terkecuali busway
di berbagai kota besar yang padat penduduknya, antara lain: Jakarta, Surabaya,
Bandung, Medan, Makassar dan lainnya.
Pada gambar-IV
disajikan Penyeberangan Pejalan-kaki Lurus Tergabung Busway atau Terpadu Busway,
disingkat: PPLTB. Dengan kehadiran PPLTB para pejalan-kaki akan mudah diseberangkan,
dan para penumpang busway: anak-anak, kaun permpuan, para disable, hingga orang
tua, akan mudah “naik” atau “turun” dari
buaway, sebagaimana tampak pada Gambar-IVa bawah ini.
Gambar-IVa
Adapun berbagai bagian
dari PPLTB yang terlihat dari atas, ialah sebagaimana dibawah ini:
1.
Lajur Angkutan Umum Hilir
2.
Lajur Angkutan Busway Hilir
3.
Lajur Angkutan Busway Mudik
4.
Lajur Angkutan Umum Mudik
5.
Tapak di sisi kiri dan sisi kanan jalan-raya, sekaligus
Halte Busway
6.
Ruang Naik Turun (RNT) penumpang Busway ditengah
jalan-raya.
7.
EP terdapat dalam RNT ditengah jalan-raya.
8.
EP diatas tapak kanan dan tapak kiri kedua sisi
jalan-raya.
9.
PPLTB yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya.
Dengan mendirikan
PPLTB di semua Pemberhentian atau Halte Busway, maka segala tangga tempat berjalan
kaki naik maupun tempat berjalan kaki turun, lagi berkelok-kelok mengitari tiap
Halte Busway yang kini ada dapat dengan demikian dihilangkan, sehingga pemandangan garis-langit
(skyline) Ibukota Jakarta, akan terlihat semakin indah dan menawan.
Gambar-IVb
Adapun bagian-bagian
PPLTB yang terlihat dari muka, ialah:
9. PPLTB yang menghubungkan
kedua sisi jalan-raya diseberangi
6. RNT ditengah jalan-raya dengan
dua EP berada didalamnya
8. EP
yang terdapat di kedua ujung PPLTB, diatas tapak kanan dan di tapak kiri.
h = tinggi PPLTB diatas jalan-raya
Gambar-IVc
Adapun Gambar-IVc
memperlihatkan sebuah PPLTB tampak samping.
9. PPLTB tinggi penyeberangan.
8.
EP berdiri di salah satu tapak.
6.
RNT ditengah jalan-raya dengan dua EP terdapat dalamnya.
Mempromosikan Sarana Menyeberang Jalan-Raya
Budaya-Baru
Untuk memperkenalkan sarana menyeberang jalan-raya
“budaya-baru” kepada para pejalan-kaki (pedestrian)
di Tanah-Air dan Mancanegara, dimulai dari pengunjung kawasan Silang Monas
Ibukota Jakarta yang tidak menggunakan kendaraan bermotor. Dengan menempatkan PPL
atau PPT beserts EP di sejumlah tempat strategis, diantaranya di: jalan Merdeka
Utara, jalan Merdeka Timur, jalan Merdeka Selatan, dan jalan Merdeka Barat, warga
kota, wisatawan para pejalan-kaki domestik sampai mancanegara akan dengan
sukacita masuk dengan “budaya baru”, ke
kawasan Silang Monas di kota Jakarta karena itulah pilihan yang terbaik,
karena: aman, nyaman, dan terhindar dari kecelakaan tidak diinginkan. Dengan hadirnya
PPL, PPT, berikut EP, tak seorang pun
yang berfikiran sehat atas kemauan sendiri bersedia meninggalkan “budaya baru”,
saat meninggalkan kawasan Silang Monas, karena selain aman, nyaman, dan selamat
juga sangat menghemat tenaga.
SNI.
Dalam menghadirkan: PPL, PPT berikut EP tidak diragukan
lagi perlunya keterlibatan Standard Nasional Indonesi (SNI). SNI akan melibatkan
banyak fihak yang berurusan dengan kepentingan warga kota, antara lain: keamanan,
kenyamanan, keselamatan, keandalan, ekonomi, efisiensi, sumber tenaga (energy),
peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah, asuransi, dan masih banyak
lagi aspek lainnya; juga keterlibatan disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan untuk menghadirkannya.
Sarana penyeberang jalan-raya budaya-baru ini dapat dibuat di dalam negeri dan
hanya membutuhkan sedikit komponen import. Waktu pembuatan PPL, PPT berikut EP untuk para pejalan-kaki
yang akan berkunjung ke Silang Monas di Jakarta diperkirakan sekitar 6 sampai
12 bulan.
Penyeberang
Kendaraan Bermotor
Sarana
jalan-raya PPL, PPT, berikut EP mudah dikembangkan juga untuk
menyeberangkan kendaraan roda: dua, tiga,
dan empat, guna mengalihkan sebagian lalulintas menuju ke jalan samping, jalan seberang, atau
jalan bersilang, sehingga kepadatan kendaraan di jalan bebas hambatan, seperti:
jalan tol dan jalan lainnya dapat diturunkan kepadatannya dengan segera.
Dengan demiksarana, kendaraan mogok, atau rusak, atau lainnya
yang tidak lagi dapat bergerak dapat langsung dikeluarkan dari jalur jalan
bebas hambatan.
Catatan:
Gagasan penyeberang
jalan-raya ini telah dipatenkan penulis di Kantor Paten Republik Indo-nesia,
Jakarta, dengan judul “Penyeberangan Jalan-Raya”, pada tanggal 14 April 2004.
--------selesai--------
Penulis:
H.M.Rusli
Harahap
Pamulang
Residence G1
Jalan
Pamulang-2, Pondok Benda.
Kode
Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel.
021-74631125.







